Dosa Terindah
Malam ini sangat dingin. Angin berhembus kencang disertai rintik- rintik hujan. Merembes melalui jendela. Tapi malam ini justru menjadi malam yang hangat bagiku. Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.Namun, lampu kamar masih menyala.
Di ujung tempat tidur, Aku dan Steve duduk bersebelahan menghadap jendela. Sambil menggenggam tangannya, kusandarkan kepalaku di pundaknya. Aku tidak peduli seberapa kuat cuaca membekukanku. Karena aku akan selalu merasa aman di dekapnya. Momen yang kumimpikan setiap detik. Setiap malam sepi yang kulalui tanpanya. Aku selalu bersabar.
Tiga tahun telah berlalu. Rahasia ini masih tersimpan rapi. Sedih. Hingga saat ini aku belum tahu rasanya menjadi seorang istri. Dan memiliki keluarga yang seutuhnya.
Jika aku boleh meminta satu hal saja di dunia ini. Aku ingin memilikinya. Dimilikinya. Mungkin memang betul. Hanya wanita yang bisa mencintai satu laki- laki.
Kapankah kesendirian ini akan berakhir? Sarapan bersamanya setiap pagi. Memakaikan dasi ketika ia akan berangkat kerja. Rasanya semua itu mustahil! Cukup ia hadir ketika rindu melanda. Yah, cukup itu saja. Sederhana, kan?
Ku mencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orang pun yang tahu
Meskipun tiada satu orang pun yang tahu
Ku mencintaimu sedalam- dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku
Suara Mp3 dari handphonenya. Ia sengaja memutar lagu itu untukku. Sebagai perwakilan perasaannya. Kita tahu kita saling mencintai. Tapi ia sudah menikah jauh sebelum mengenalku.
"Thea..." panggil Steve sambil membelai lembut rambutku.
"Hmm?" jawabku pelan.
"Aku tahu kamu mencintaiku dan sangat menyayangiku. Tapi kamu tidak bisa terus- menerus seperti ini. Tidak bisa selalu menungguku sampai aku ada di sampingmu. Aku sedih melihatmu hanya terduduk lemas menanti kedatanganku yang tidak pasti. Kamu harus mencari orang lain untuk kamu cintai. Dan melupakanku."
Aku menegakkan leherku. Menatapnya tajam. Seakan tak percaya Steve mengatakan itu padaku.
"Apa? Mencari penggantimu?!" Aku masih menatapnya.
"Aku tak percaya kamu katakan itu. Apa kamu tidak merasakan bahwa hatiku sudah terikat padamu?"
Steve berbalik lalu menangkup kedua pipiku.
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya tidak tega melihatmu duduk sendirian melamun menantiku. Ini kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Bahkan, cintaku lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan."
"Kamu pasti sudah bosan denganku." kataku datar. Sedikit kecewa.
"Salah Thea. Kamu salah."
Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku hanya tidak ingin kamu bersedih. Karena aku tak akan mampu hadir saat kamu membutuhkanku. Seperti kemarin, kamu mengurung diri di kamar dan duduk menangis di pojok. Hatiku sakit, Thea, melihatmu seperti itu."
"Tapi aku mencintaimu, Steve!" nadaku agak kasar dan tinggi. Lalu kembali rendah.
"Tak bolehkah aku menunggumu? Menikmati indahnya kerinduan yang menggebu? Silahkan kamu pergi. Tapi jangan pernah memaksaku untuk menggantikanmu dengan yang lain. Tolong, aku mohon. Aku ingin tetap setia pada janjiku bahwa aku tak akan meninggalkanmu apaun yang terjadi."
Tangan Steve bergerak di pipiku. Menghapus air mata yang tanpa kusadari menetes. Aku tahu saat melihat jemarinya mengkilap karena air mataku.
"Aku terlalu lemah sampai aku tak bisa menahan air mataku." lanjutku.
"Bolehkah aku terus menangis?" tanyaku mulai terisak.
"Boleh, sayang. Kamu boleh menangis sesukamu, asalkan kamu menangis di hadapanku."
Ia menarik leherku dan menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkanku semakin tenggelam dalam air mataku sendiri. Seandainya waktu bisa kuhentikan atau bahkan kuundur ke masa lalu, pasti kulakukan itu. Tak kubiarkan malam ini beranjak menuju pagi. Aku ingin bahagia selamanya dalam dekapan Steve yang hangat dan menentramkan. Seandainya. Ya, hanya seandainya. Aku tak mungkin bisa menghentikan perputaran waktu, walau nyawa kupersembahkan sekalipun.
"Thea, bolehkah aku menciummu?" tanyanya ketika aku sudah berhenti dengan air mataku.
"Kenapa harus meminta. Bukankah aku ini adalah milikmu?"
Ia melepaskan pelukanku. Pelan- pelan mencium bibirku. Sangat lembut dan penuh perasaan. Saat ia menarik kepalanya, aku memandang tepat ke bola matanya. Mengiba. Memohon ia melakukannya lagi untukku. Aku tahu kita berdua ingin melakukannya. Aku benar- benar tahu seperti apa Steve. Kami sudah tiga tahun menghabiskan waktu bersama. Dan sangat bisa merasakannya. Getaran juga perubahab otot- otot tubuhnya. Bahkan aku bisa merasakan sentuhannya sebelum aku tahu dia di belakangku dan mulai menyentuhku. Kehadirannya seperti sentuhan fisik yang tidak dapat kutolak. Terasa sangat nyata.
Kami bermain. Tenggelam dalam surga cinta. Aku sangat bahagia bersananya saat seperti ini. Tapi sungguh bukan karena itu aku menyukainya dan mencintainya. Aku sangat mencintainya tanpa pernah bisa menjelaskan atas dasar apa aku mencintainya.
Ketika kubuka mataku, aku telah terbaring di tempat tidur. Warna merah jambu spray menambah nuansa romantis. Dan aku sadar kami telah menyatu.
"Kamu bahagia, sayang?" bisiknya di telingaku.
"Amat, sangat bahagia." kataku tersenyum puas.
Ia mengecup mesra keningku dan membelai lembut rambutku.
Lalu hening dan selanjutnya aku benar- benar terlelap dalam tidurku.
Hanya aku, dia, dan Tuhan yang tahu semua kisah ini. Aku tidak peduli seberapa banyak dosa yang kulakukan. Aku terus menikmati setiap denting waktu yang bergulir, karena sesungguhnya, cinta tidak butuh persetujuan siapapun.

Posting Komentar